Bandara APT Pranoto Siap Gantikan Bandara Temindung

Bandara APT Pranoto Siap Gantikan Bandara Temindung
Transportasi | Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto yang berada di Sungai Siring Samarinda, siap menggantikan Bandara Temindung. Hal tersebut disampaikannya Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso saat melakukan kunjungan kerja ke Samarinda pada Minggu (08/04)lalu. Dalam kunjungan kali tersebut, Agus yang didampingi oleh Kadishub Provinsi Kaltim Salman Lumoindong, Kepala UPBU  Temindung Wahyu Siswoyo dan Kepala BMKG Balikpapan.

 

Dalam kunjungannya, Agus juga meminta penjelasan pada pihak yang terkait dengan keberadaan bandara baru tersebut kepada Pemerintah Daerah, Pengelola Bandara, AirNav dan BMKG terkait perkembangan pembangunan bandara. Secara langsung Agus juga meninjau sisi udara dan darat Bandara APT Pranoto tersebut.

 

Agus menegaskan,  Bandara Pranoto sudah siap beroperasi, tinggal finalisasi verifikasi untuk mendapatkan Sertifikat Bandar Udara yang prosesnya akan diselesaikan sebelum bandara beroperasi. Hal ini juga terkait Aeronautical Information Regulation And Control (AIRAC) Aeronautical Informations Publication (AIP) Supplement no 11/ 18 tanggal 29 Maret  2018 tentang pengoperasian Bandara APT Pranoto yang akan dimulai pada tanggal 24 Mei 2018.

 

Menurut Agus, pengoperasian Bandara APT Pranoto ini sangat mendesak untuk pengembangan konektivitas penerbangan di Samarinda. Hal tersebut mengingat Bandara Temindung Samarinda Lama yang ada saat ini sudah tidak dapat dikembangkan. Panjang landasan yang berukuran 1.040 m x 23 m hanya bisa melayani pesawat sekelas ATR 42 dengan restriksi khusus. Landasan tidak bisa diperpanjang karena terletak di tengah permukiman padat kota Samarinda. Selain itu kompleks Bandara Temindung juga menjadi daerah langganan banjir.

 

"Sebagai ibukota propinsi yang terus berkembang, Samarinda seharusnya mempunyai bandara yang representatif. Bandara APT Pranoto yang runway-nya berukuran 2.250m x 45 m ini bisa melayani pesawat sekelas Boeing B737 NG atau Airbus A320 sehingga bisa melayani penerbangan jarak dekat dan jauh untuk membangun konektivitas penerbangan," lanjutnya.

 

Sementara itu Kadishub Kaltim Salman Lumoindong menyatakan Provinsi Kalimantan Timur akan mengembangkan sumber daya yang tergantikan, untuk mengganti sektor pertambangan sebagai pendapatan asli daerah.

 

Untuk dijetahui, Bandara APT Pranoto ini sudah mulai dibangun tahun 2011 dan selesai terminal pada tahun 2013 oleh Pemprov Kalimantan Timur. Fungsi dari bandar udara belum lengkap karena belum ada bangunan sisi udara diantaranya belum ada taxiway, belum ada appron, belum ada runway, belumada pemadam, kebakaran, belum ada peralatan pemadam kebakaran, bahkan listrikpun belum ada pada waktu itu. Boleh dikatakan bandara tersebut mandeg.

 

Baru pada awal 2015 bandara lalu dibangun kembali dengan menyelesaikan bangunan sisi udara secara bertahap, kemudian tahun 2016 diikuti dengan penyerahan bandara ini dari Gubernur Pemda Kalimantan Timur kepada Direktur Jenderal Perhubungan Udara untuk dikembangkan dan dioperasionalkan lebih lanjut di lebih lanjut.

 

Ditjen Perhubungan Udara sejak awal tahun 2018 ini sudah melakukan beberapa kegiatan tambahan untuk memastikan standar keselamatan, keamanan dan kenyamanan pelayanan di bandara terpenuhi sesuai dengan annex 14 ICAO dan Peraturan Keselamatan penerbangan Sipil part 139 tentang Aerodromes. Beberapa kegiatan tambahan tersebut di antaranya pembuatan runway strip, landscape dan pemagaran kompleks bandara.
 

Bandara Pranoto memiliki panjang runway: 2.250 m x 45 m, ultimate  2.500 m x 45 m. Memiliki ukuran Apron: 300 m x 123 m, ultimate 600 m x 123 m (73.800 m2). Bandara ini dapat didarati oleh pesawat jenis Boeing 737-900 ER /Airbus A320. Gedung terminal memiliki luas 12.700 m2, sehingga mampu menampung  1.500.000 penumpang/ Tahun.

 

Sementara itu Kadishub Kaltim Salman Lumoindong menyatakan Provinsi Kalimantan Timur akan mengembangkan sumber daya yang tergantikan, untuk mengganti sektor pertambangan sebagai pendapatan asli daerah.

 

"Dulu kita mengandalkan pertambangan namun terbukti sekarang mulai habis. Sekarang kita akan ganti dengan sumber daya tergantikan seperti pariwisata. Bandara ini nantinya bisa mengantarkan wisatawan dari luar negeri ke tempat-tempat wisata eksotik seperti Derawan dan sebagainya," ujarnya.

 

Masyarakat Samarinda memang sudah mengharapkan Bandara APT Pranoto segera beroperasi. Keberadaan bandara selain bisa meningkatkan pariwisata juga diharapkan bisa menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar sehingga kesejahteraannya meningkat.

 

"Kalau bisa anak muda dayak di sekitar bandara juga dipekerjakan. Bisa dididik dulu sehingga sesuai dengan kebutuhan bandara," ujar Pemandu Lamin Adat Dayak Kenya di Pampang,  Kaik Simson.

 

Kepala UPBU Temindung Wahyu Siswoyo mengatakan, penggunaan Bandara APT. Paranoto untuk tahap awal akan melayani rute penerbangan yang telah ada selama ini di Bandar Udara Temindung.

 

"Setelah itu akan kita kembangkan lebih lanjut. Saat ini sudah ada permintaan dari maskapai Garuda, Lion grup dan Sriwijaya grup untuk membuka penerbangan ke Jakarta, Surabaya dan Makassar," ujarnya.

 

Wahyu menambahkan bahwa sebelum bandara APT Pranoto resmi beroperasi,  nantinya akan dilakukan proving flight dari Bandara Temindung ke Bandara APT Pranoto pada akhir April 2018. (PR/TS)




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu