Butuh Komitmen Semua Pihak Hadirkan Wujudkan Transportasi Publik yag Sehat

Butuh Komitmen Semua Pihak Hadirkan Wujudkan Transportasi Publik yag Sehat

Transportasi.co | Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Kementerian Perhubungan (BPTJ Kemenhub)  Polana B Pramesti mengatakan selama masa pandemi Covid-19 masyarakat diharapkan tetap menjalankan aktivitas di dalam rumah. “Kalaupun terpaksa harus ke luar rumah dan menggunakan transportasi publik, maka prinsip-prinsip protokol kesehatan harus selalu diperhatikan dan dikedepankan,” ujar Polana, dalam webinar bertajuk Bijak Bertransportasi di Era Pandemi Covid-19.

Lebih lanjut Polana mengatakan untuk mengatur sektor transportasi di wilayah perkotaan, pemerintah telah menerbitkan aturan yang mengacu pada Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 41 Tahun 2020 serta Surat Edaran Menteri Perhubungan No. 11 /2020  untuk transportasi darat dan Surat Edaran Menteri Perhubungan No. 14/2020 untuk transportasi perkeretaapian. Surat edaran tersebut menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk membuat aturan di wilayah masing-masing.

“Keberhasilan penerapan protokol kesehatan pada transportasi publik, sangat  butuh dukungan dari semua pihak. Tidak hanya pemerintah pusat, pemerintah daerah, para pemangku kepentingan transportasi dan juga masyarakat,” tutur Polana.

Dalam paparannya, Polana menjelaskan masa pandemi Covid-19 telah memunculkan tantangan pada sektor transportasi perkotaan (urban transport), yaitu penyelenggaraan transportasi perkotaan yang seminimal mungkin menghindarkan risiko penularan covid-19. Bagi masyarakat urban, transportasi perkotaan merupakan kebutuhan penting yang mendukung mobilitas dan aktifitas sehari-hari, termasuk aktifitas bekerja dan mencari nafkah.

Oleh karena itu, meskipun aktifitas masyarakat dibatasi karena Pembatasan Sosial Berkala Besar (PSBB) ataupun saat adaptasi menuju kebiasaan baru, angkutan umum massal perkotaan masih menjadi kebutuhan penting bagi sebagian masyarakat yang masih tetap harus beraktifitas.

Di sisi lain, lanjut Polana, pandemi Covid-19 ternyata juga memunculkan peluang bagi penataan transportasi Jabodetabek. Salah satunya, dapat dilakukan dengan mendorong lebih banyak penggunaan non motorized transportation (NMT) seperti berjalan kaki maupun bersepeda di kalangan masyarakat dengan tetap mengedepankan implementasi protokol kesehatan.

NMT setidaknya dapat dilakukan untuk transportasi dengan jarak yang masih terjangkau dengan   jalan kaki atau bersepeda serta  transportasi first mile dan last mile dalam proses  menggunakan angkutan umum massal. “Dalam pengembangan sistem transportasi perkotaan di manapun di dunia, non motorized transportation sebagai bagian  transportasi ramah lingkungan dan berkelanjutan merupakan alternatif transportasi yang lazim dikembangkan,” ujar Polana.

Pemanfaatan NMT akan mendatangkan benefit kesehatan baik untuk kepentingan publik secara keseluruhan  seperti mengurangi polusi ataupun benefif kesehatan secara personal yaitu meningkatkan gerak tubuh untuk kesehatan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan rata-rata orang Indonesia masih cukup rendah dalam berjalan kaki yaitu hanya 3000 langkah/hari. Seharusnya minimal 6000 langkah dan ideal 10.000 langkah/hari agar memberikan dampak pada kesehatan.

Sejalan dengan upaya mendorong penggunaan NMT, BPTJ juga terus mengajak masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum massal melalui kampanye #JalanHijau. Dengan kampanye #JalanHijau diharapkan semakin banyak masyarakat yang shifting dari kendaraan pribadi ke angkutan umum massal dan berjalan kaki yang tentunya akan memberi dampak positif bagi lingkungan yang identik dengan warna hijau. (TS)




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu