Author : Yusuf

GINSI Dukung Pelabuhan Untuk Bongkar Muat Bukan Penimbunan

Dibuat : Sep 19th, 2016 14:31:07  |  0 comments

GINSI Dukung Pelabuhan Untuk Bongkar Muat Bukan Penimbunan
Transportasi.co | Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mendukung upaya dalam menekan masa inap barang di pelabuhan atau dwelling time dengan memfungsikan pelabuhan hanya sebagai tempat bongkar muat barang dari dan ke kapal, bukan untuk kegiatan penimbunan.
 
Hal itu mungkin dilakukan dengan cara memperluas implementasi aturan relokasi barang yang telah melewati batas waktu penumpukan di seluruh pelabuhan utama di Indonesia.
 
Wakil Ketua Umum BPP GINSI, Erwin Taufan mengatakan penurunan dwelling time yang terjadi di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dari sebelumnya rata-rata 7-8 hari menjadi 3,2 hari, karena operator terminal peti kemas di pelabuhan Priok fokus pada core business-nya, yakni bongkar muat dan implementasi Permenhub No 117/2015 tentang relokasi barang impor yang telah melewati batas waktu penumpukan atau longstay.
 
Dalam beleid, terang Erwin, setiap pemilik barang impor/kuasanya wajib memindahkan barang yang melewati batas waktu penumpukan maksimal tiga hari dari lini satu pelabuhan/terminal dengan biaya dari pemilik barang.
 
Makan sesuai aturan jika selama tiga hari barang impor belum juga dikeluarkan atau diambil pemiliknya maka barang impor tersebut dapat direlokasi ke lini-lini pelabuhan maupun tempat penimbunan sementara (TPS) di wilayah pabean pelabuhan yang menjadi buffer terminal peti kemas Priok.
 
“Beleid itu kami rasakan cukup efektif sehingga dwelling time di Priok bisa bergerak turun signifikan,” ungkapnya, namun sayangnya, aturan tersebut hanya diberlakukan di Pelabuhan Tanjung Priok.
 
Padahal Permenhub 117/2015 bisa saja diperluas implementasinya, hingga di tiga pelabuhan utama selain Priok untuk menekan dwelling time, “Ini untuk antisipasi jangka pendek dan butuh ketegasan dari Kemenhub soal ini,” ucapnya mengusulkan.
 
Ia pun mengimbau semua pihak untuk tidak saling menyalahkan terkait penyebab lamanya dwelling time di pelabuhan. Sebab, pemilik barang impor juga tidak menginginkan barangnya lebih lama menumpuk di pelabuhan karena hal itu justru bisa menambah biaya logistik.
 
Kalau ada importir yang sengaja berlama-lama menimbun barangnya di pelabuhan tentunya perlu dipertanyakan dan patut dicurigai klasifikasi perusahaan importasinya seperti apa? Tanya Erwin, “Yang jelas kalau importasi bahan baku justru inginnya lebih cepat sampai di pabrik atau gudang importir,” tuturnya.
 
Karen itu ia mengingatkan supaya barang impor yang tidak jelas keberadaannya di dalam terminal peti kemas segera dikeluarkan atau relokasi ke areal buffer sehingga tidak menjadi beban operator pelabuhan. **AD
 
 
Tags: Bisnis

0 Komentar

Berikan komentar anda

MENHUB BERI PENGHARGAAN PADA UNIT PELAYANAN PUBLIK BERPRESTASI 2016
Laporan Khusus

MENHUB BERI PENGHARGAAN PADA UNIT PELAYANAN PUBLIK BERPRESTASI 2016

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyerahkan trophy dan piagam penghargaan pelayanan prima unit pelayanan publik kepada para Manajemen Unit Pengelola Pelayanan Publik berprestasi, (19/9) di Kantor Kementerian Perhubungan RI, Jakarta.

     1 Komentar
PRODUKTIF SAAT DELAY
Daerah

PRODUKTIF SAAT DELAY

Di zaman modern seperti sekarang ini banyak sekali tekhnologi yang berkembang pesat dari waktu ke waktu, pasalnya dalam setiap perputaran detik mampu merubah segala sesuatu yang kita perlukan dengan instan

     1 Komentar

Citilink Mengangkasa Di Langit Papua Mulai Oktober 2016
Trans Angkasa

Citilink Mengangkasa Di Langit Papua Mulai Oktober 2016

Transportasi.co | Citilink Indonesia akan membuka rute ke Papua sebagai salah satu upaya untuk memperluas konektivitas Citilink ke daerah Timur Indonesia.

     0 Komentar
Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Akan Gunakan Tenaga Listrik
Transportasi

Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Akan Gunakan Tenaga Listrik

Kementerian Perhubungan dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) melakukan kajian awal dalam proyek kereta api Jakarta-Surabaya.

     0 Komentar