Gunakan Hak Jawab, JNE Tegas Membantah Berafiliasi Dengan Ormas Tertentu

Gunakan Hak Jawab, JNE Tegas Membantah Berafiliasi Dengan Ormas Tertentu
Sumber foto: Transportasi.co

Transportasi.co | Sempat mendapatkan isu miring yang menjadi trending topic di platform Twitter, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) memberikan hak jawab dengan menyatakan tidak terafiliasi dengan ormas tertentu. Hal ini untuk membantah soal pemberitaan JNE berafiliasi dengan ormas tertentu yang ramai di media sosial.

 

Presiden Direktur JNE Mohammad Feriadi, mengatakan, JNE merupakan organisasi yang netral, tidak berafiliasi dengan organisasi, kelompok, dan individu tertentu. “JNE tidak ingin masuk ke isu yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). JNE hanya ingin berbisnis dan membantu UMKM serta masyarakat luas dalam pendistribusian barang. Sehingga JNE dapat terus membantu anak yatim, tuna netra, janda, fakir miskin, dan para dhuafa," tegas Feriadi, di acara Press Conference Hak Jawab JNE Atas Pemberitaan Berafilisasi dengan Ormas Tertentu, di Kawasan Pluit, Jakarta Utara, Rabu (16/12/2020).

 

Feriadi memanmbahkan, terhadap isu-isu yang berkembang di media sosial, JNE melihat isu dan tuduhan yang dihembuskan tersebut, memanfaatkan momen suhu politik yang sedang menghangat akhir-akhir ini. "Tetapi perlu saya sampaikan, di Desember 2020, ada tanggal yang selalu dinantikan oleh hampir semua perusahaan logistik. Tepat tanggal 12 Desember ada gelaran Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 12.12. Di momen Harbolnas, banyak perusahaan belanja online memberikan penawara menarik," jelas dia.

 

Lanjut Feriadi, oleh sebab itu, isu-isu miring dan tudingan yang ditujukan ke arah JNE di media sosial, semua terkait dengan persaingan usaha di sektor logistik. "JNE jelas melihat indikasi yang ada, menuju kepada persaingan usaha yang kurang sehat," kata Feriadi.

 

Dalam kesempatan yang sama, kuasa hukum JNE Hotman Paris Hutapea, sehubungan dengan beberapa isu yang beredar, maka JNE menyatakan keberatan serta bermaksud menyampaikan kebenaran atas tuduhan melalui Hak Jawab, diantaranya tudingan JNE mendukung teroris dan gerakan kelompok radikal (teroris); JNE terafiliasi dengan ormas tertentu; tuduhan Haikal Hassan memiliki saham di JNE; omset JNE mengalami penurunan akibat gosip yang beredar; dan somasi bagi orang yang masih membuat fitnah tersebut.

 

“Ada sejumlah poin yang digaris bawahi pihaknya terkait isu tidak benar yang menyatakan bahwa tuduhan Ustaz Hanny Kristianto sebagai CEO JNE, tuduhan akun JNE Sorogenen membuat konten terkait SARA yang menghina Banser di wilayah Pekalongan, tudingan JNE mendukung teroris dan gerakan radikal, tuduhan Haikal Hassan memiliki saham di JNE, hingga soal salam "J" simbol sebagai dukungan terhadap ormas ilegal,” jelas dia.

 

VP of Marketing JNE, Eri Palgunadi, mengatakan Hanny Kristianto bukan bagian dari JNE,  tetapi bersama JNE berkolaborasi untuk membantu yang bersangkutan pengiriman APD, masker, face shield, dan obat-obatan herbal. Hal ini sudah diklarifikasi oleh Hanny Kristianto melalui video di akun IG.

 

Selanjutnya, Eri meberikan sanggahan, terkait akun JNE Sorogenen membuat konten terkait SARA yang menghina Banser di wilayah Pekalongan. “Kasus ini sudah selesai pada 27 Agustus 2020 dan sebagai sanksi perjanjian kerjasama dengan agen tersebut sudah diputus. Dan pihak JNE Pekalongan, NU serta Banser setempat telah melakukan mediasi,” jelas dia.

 

Terkait isu JNE mendukung teroris dan gerakan radikal, Eri menegaskan, JNE tidak pernah berafiliasi dengan lembaga, institusi, organisasi, apapun yang merugikan masyarakat. JNE mengakomodir setiap potensi bangsa dan organisasi yang sepakat untuk melakukan kegiatan sosial bersama. “Sebagian pemasukan yang JNE punya dibagikan kepada kaum membutuhkan, seperti Anak yatim dan lain-lain,” kata dia.

 

Selanjutnya menegnai tudingan  Haikal Hassan memiliki saham di JNE, dia mengataka, faktanya JNE didirikan oleh alm. H. Soeprapto Soeparno. “Saat ini JNE dipimpin oleh M. Feriadi selaku Presiden Direktur JNE, Chandra Fireta dan Edi Santoso selaku Direktur JNE. Tidak pernah ada keterlibatan Haikal Hassan dalam kepemilikan saham di JNE,” jelasnya.

 

Untuk salam “J” diduga JNE mendukung ormas HTI dan FPI dibantah Eri Palgunadi. Menurutnya, salam “J” merupakan simbol huruf (J) dari brand “JNE”. “Salam ini sudah digunakan sejak tahun 2017. Dan sempat tidak digunakan pada tahun 2019, pada saat pilpres untuk menghindari miss communication,” kata Eri.

 

Eri melanjutkan, tuduhan tersangka yang beberapa hari lalu terciduk di Wisma 2 Gedung BCA Slipi Jakarta Barat. Yang bersangkutan ditangkap sebagai pelaku bom molotov serta diduga sebagai kurir JNE. “Berita hoax beredar melalui WA blast. Faktanya, pelaku pelemparan tersebut bukan kurir JNE (Bukan karyawan JNE) berdasarkan informasi dari pihak yang berwajib 13 Desember 2020,” jelas Eri .

 

Isu miring terhadap JNE, tak terlepas dari ramainya komentar di Twitter dengan tagar boikot JNE yang sempat menjadi trending topic akibat ucapan selamat ulang tahun ke-30 kepada JNE dari tokoh tertentu. “Sebetulnya yang memberi ucapan selamat melalui video itu banyak. Diantaranya mantan gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) dan gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, juga memberikan ucapan selamat,” katanya.

 

Ketika disinggung mengenai mencuatnya gossip atau isu terhadap kinerja JNE, Eri menjelaskan, bisnis JNE sama sekali tidak terganggu atau menurun, bahkan mengalami bertumbuh cukup signifikan hingga 15 persen. “Jika dibandingkan tahun lalu (year on year) kami tumbuh hingga 20 persen, sementara dibanding bulan kemarin kami tumbuh hingga 15 persen,” imbuh dia.

 

Dari sisi hukum, menurut Hotman, melalui Hak Jawab ini JNE menunggu perkembangan selanjutnya. “JNE masih akan menunggu perkembangan berikutnya. “Jika ada akun-akun yang menyebar-nyebarkan lagi tuduhan-tuduhan ini, maka kami akan menuntut secara hukum,” pungkas Hotman.

 

Sebagai informasi tambahan, JNE merupakan perusahaan asli nasional yang bergerak dalam bidang pengiriman dan logistik. Pada awal didirikan oleh alm. H. Soeprapto Suparno, pada tanggal 26 November 1990, dengan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir, yang dalam perkembangannya berganti nama menjadi Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) hingga saat ini.

 

Saat ini dimiliki enam orang pemegang saham JNE, yaitu M Feriadi mewakili keluarga besar Suprapto Suparno, Johari Zein (Komisaris Perseroan), Chandra Fireta (Direktur Perusahaan), Marselinus Kuncoro Adi, Hui Mariawati, dan Mirta Akbari. Memasuki 3 dekade berkiprah, JNE terus berkomitmen dengan nilai spiritual dalam menjalankan bisnis, sesuai yang diwariskan founding fouder JNE H. Soeprapto Suparno, dengan tagline “Connecting Happiness” untuk mewujdukan semangta “Bahagia Bersama”. (TS)




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu