Indonesia Gelar Forum Internasional Pemisahan Alur Pelayaran Selat Sunda dan Selat Lombok

Indonesia Gelar Forum Internasional Pemisahan Alur Pelayaran Selat Sunda dan Selat Lombok
Transportasi | Proposal penetapan skema pemisahan alur pelayaran atau Traffic Separation Scheme (TSS) dan Ship Reporting System (SRS) di Selat Lombok dan Selat Sunda yang akan diajukan pada Sidang IMO NCSR ke-6 pada tahun 2019 mendatang, terus dimatangkan

 

Direktorat Kenavigasian, Ditjen Perhubungan Laut  Kemenhub, menggelar acara International Workshop on the Designation of Ship Routeing System & Ship Reporting System in Lombok and Sunda Straits and Particularly Sensitive Sea Area (PSSA) in Lombok Strait, di Kantor Distrik Navigasi Kelas II Benoa, Denpasar Bali pada Senin ini (9/4).

 

Pada workshop ini, Indonesia mensosialisasikan proposal yang telah dibahas pada minggu sebelumnya kepada perwakilan dari negara-negara IMO, stakeholders, serta instansi terkait, guna mendapatkan saran dan masukan untuk menyempurnakan proposal dimaksud.

 

Hadir pada workshop kali ini perwakilan dari kedutaan besar Filipina, Belanda, Italia dan India, Maritime and Port Authority of Singapore (MPA), Marine Departement of Malaysia, Australian Maritime Safety Authority (AMSA), INTERTANKO Singapore, serta Perwakilan dari instansi terkait seperti PUSHIDROS AL, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Luar Negeri. Hadir juga sebagai narasumber wakil dari Sekretaris Jenderal IMO, Mr. Osamu Marumoto, dan konsultan nasional dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Surabaya, Dr. I Made Ariana.

 

“Proposal yang kami ajukan bertujuan untuk meningkatkan keselamatan pelayaran di kedua selat dimaksud. Sedangkan khusus untuk Selat Lombok, proposal ini juga bertujuan untuk meningkatkan perlindungan lingkungan maritim,” kata Direktur Kenavigasian Ditjen Perhubungan Laut, Sugeng Wibowo.

 

Selain membahas mengenai Ship Routeing System dan Ship Reporting System yang diadopsi IMO, workshop ini juga akan membahas aspek-aspek teknis dalam penetapan TSS dan SRS di Selat Lombok dan Selat Sunda, serta penetapan PSSA di Selat Lombok.

 

“Penetapan TSS/SRS di Selat Lombok dan Selat Sunda selain penting untuk menjamin terciptanya keselamatan pelayaran, juga tak kalah pentingnya untuk perlindungan lingkungan maritim karena pada beberapa area di kedua wilayah tersebut terdapat kawasan konservasi laut, kawasan laut yang dilindungi, serta taman akuatik dan taman laut,” ungkap Sugeng.

 

Sebagai dua di antara selat-selat tersibuk di dunia, yang dilalui baik pelayaran nasional maupun internasional, padatnya lalu lintas di kedua Selat tersebut berbanding lurus dengan besarnya risiko kecelakaan kapal yang mungkin terjadi.

 

“Ada juga risiko kecelakaan kapal yang disebabkan karena kedalaman laut di Selat Sunda yang bervariasi. Selain itu, di sebelah timur Laut Selat Sunda juga terdapat dua gugusan karang yang sangat berbahaya bagi kapal-kapal yang melintas, yaitu Karang Koliot dan Karang Gosal,” ujar Sugeng.

 

Belum lagi Selat Lombok terletak pada segitiga karang yang kaya akan keanekaragaman hayati laut yang harus dilindungi, di mana terdapat banyak spesies-spesies laut yang terkenal dan langka yang sensitif terhadap dampak dari aktivitas pelayaran.

 

“Khusus pada Selat Lombok, TSS akan berfungsi sebagai salah satu Associated Protective Measures (APMs) pada Particularly Sensitive Sea Area (PSSA) di wilayah Selat Lombok, yang draft submisinya akan diajukan ke IMO pada Sidang Marine Environment Protection Committee (MEPC) ke-74 tahun depan,” tambahnya.

 

Mengingat kedua Selat dimaksud merupakan jalur transportasi yang sangat vital dan strategis bagi pelayaran internasional, maka pada workshop ini, Indonesia bisa mendapatkan masukan serta dukungan dari para perwakilan negara Anggota IMO, stakeholders, serta instansi terkait sehingga Draft Penetapan TSS di kedua Selat tersebut dapat diadopsi pada Sidang IMO NCSR ke-6 tahun depan. (PR/TS)




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu