Inilah Strategi Abekani Tetap Berkibar Saat Pandemi

Inilah Strategi Abekani Tetap Berkibar Saat Pandemi

Transportasi.co | Pandemi Covid-19 berdampak ke seluruh sektor kehidupan. Tak terkecuali, industri kerajin kulit ikut terguncang dan bahkan ada pelaku bisnis yang sampai gulung tikar. Butuh adaptasi, inovasi, dan strategi agar mampu bertahan di tengah pusaran gelombang pandemi seperti saat ini.

Salah satu pengusaha di bisnis pengrajin kulit yang mampu melakukan langkah tersebut adalah  Christiana Tunjung, memilik tas kulit yang berlabel Abekani. Tidak hanya mampu bertahan dari terjangan gelombang pandemi, pengusaha kerajinan asal Yogyakarta ini mampu mempertahankan pesanan secara stabil seperti kondisi normal.

Wanita yang akrab disapa Tunjung ini mengatakan, pesanan kami berjalan terus tiap hari. Di tengah pandemi, bisa dibilang kami sama sekal tidak terdampak. Jumlah kiriman pun sama seperti sebelum pandemi. “Bisnis tas kulit Abekani tetap berjalan seperti biasa dan terus sibuk melayani jumlah pemesanan yang justru stabil. Kondisi ini tak lepas dari dukungan 28.000 orang Abekanian, yaitu anggota komunitas pecinta produk Abekani,” jelas dia.

Pencapaian tas kulit Abekani hingga saat ini, tidak lepas dari tangan dingin Tunjung menerapkan strategi merangkul Abekanian dan layanan yang memuaskan pelanggan dengan pengiriman pesanan tepat waktu sampai ke tangan pelanggan. “Semua itu bisa terjadi karena anggota Abekanian. Memang hampir 90 persen penjualan kami saat pandemi ini bisa terdongkrak karena pesanan mereka. Mereka adalah para pelanggan setia tas kulit Abekani,” kata Tunjung.

Untuk memuaskan para pelanggan, Tunjung tak berhenti sampai disini dan terus melakukan inovasi. Salah satunya, pada Tahun 2012 melakukan inovasi dengan fokus memproduksi tas perempuan dari bahan kulit nabati dengan memanfaatkan teknologi digital, seperti media sosial blog, Kaskus, hingga facebook untuk memasarkan produknya. Pesanan pun membludak hingga Tunjung berinisiatif membuat Facebook untuk melayani transaksi.  

Masifnya pertambahan jumlah pelanggan setia Abekani tak lepas dari solidaritas dan koneksi antar anggota yang terus terjalin hingga kini. Lekatnya budaya solidaritas para pelanggan setianya itu menuntut Tunjung berinovasi dengan cara berbeda.

Setiap produksi, Tunjung membuka sistem polling. Para Abekanian bebas memilih desain tas Abekani yang akan diproduksi. Selain itu, Tunjung juga mengadakan lomba desain tas untuk Abekanian. Pemenang akan mendapatkan tas kulit gratis dengan desainnya sendiri, dan masuk polling untuk ditampilkan dan dipilih dalam proses produksi selanjutnya. “Tak melulu soal bisnis, tapi bagaimana bikin mereka merasa bangga aktualisasi diri dantentunya terlibat dengan Abekani. Karena itu selama pandemi penjualan stabil,” kata Tunjung.

Sejak saat itu, Tunjung harus bolak-balik mengantar produk keberbagai agen jasa pengiriman barang setiap harinya yang meningkat tajam. Hal ini tentunya rentan mengalami keterlambatan pengiriman barang. Tunjung merasa sangat terbantu ketika kurir JNE mengunjungi kantor Abekani dan menawarkan jasa free pickup. Tak tanggung-tanggung, jumlah pesanannya pun tak terbatas. Tunjung pun bisa memesan jasa free pickup lebih dari sekali dalam satu hari.

“Mungkin karena dari data JNE terlihat saya tiap hari ada pengirimanya, mereka langsung tanggap. Jadi pesanan saya yang banyak banget itu dijemput langsung oleh kurir JNE. Datangnya selalu tepat waktu saat jadwal pengiriman. Saya sampai kenal dekat sama kurir yang biasa kesini,” kata Tunjung.

Tunjung semakin mantap menggunakan layanan JNE hingga kini. Selain itu, kini 80 persen pelanggan Tunjung yang merupakan anggota Abekanian selalu memilih JNE untuk mengantarkan pesanan tas kulit Abekani ke rumah masing-masing. Selain biaya yang terjangkau dan pengiriman barang yang tepat waktu, proses tracking pengiriman barang pun sangat mudah dilakukan dengan tampilan website yang simpel.

“Di saat pandemi, hampri seluruh jasa pengiriman mengalami keterlambatan hingga berhari-hari, saya merasa terbantu dengan layanan JNE yang tepat waktu,” imbuh Tunjung.

Kepala JNE Cabang Yogyakarta, Adi Subagyo mengatakan selama pandemi, layanan JNE didukung oleh jalur darat sebagai alternative moda transportasi penerbangan. “Sehingga ketika seluruh bandara sempat tutup di masa awal pandemi, pengiriman barang para pelanggan setia tetap selamat sampai tujuan dengan tepat waktu,” pungkas Adi. (TS)

 




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu