Kendaraan Listrik, Indonesia Siap Produksi Baterai Litium 811 di 2024

Kendaraan Listrik, Indonesia Siap Produksi Baterai Litium 811 di 2024

Transportasi.co | Sejak digulirkan regulasi kendaraan listrik Perpres No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan, pemerintah terus berupaya mewujudkan hadirnya kendaraan ramah lingkungan. Salah satu upaya yang dilakukan menghadirkan pabrik baterai yang menjadi komponen inti di dalam negeri.

 

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, mengatakan ditargetkan pada 2024 Indonesia sudah bisa memproduksi baterai litium tipe 811. “Indonesia telah menandatangani kerja sama investasi pengembangan baterai litium dengan LG Chem dan CATL yang merupakan perusahaan asal Korea Selatan dan China yang memproduksi baterai untuk kendaraan listrik,” ujar Menteri Luhut.

 

Lanjut dia, kami sudah tanda tangan (pengembangan) lithium battery dengan LG Chem dan CATL. Itu proposalnya sudah dibuat. “Di samping itu skala project, timeline, sudah ada, investasi, insentif, semua sudah kita siapin. Kita berharap tahun 2024 kita sudah produksi lithium battery tipe terakhir yaitu 811,” ucap Luhut.

 

Indonesia sudah berpuluh tahun mengekspor material mentah. Padahal, bahan baku itu bisa diolah di dalam negeri. "Ini salah satu smelter tembaga, berpuluh tahun, hampir 50 tahun, semua kita ekspor saja. Maka saya lapor ke Presiden, 'Pak sekarang kita harus paksa, kita harus bikin smelter di sini.' Dan sekarang bikin smelter, satu di Gresik, tapi tidak jadi-jadi," katanya.

 

Akhirnya, lanjut Luhut, pemerintah mendorong agar bisa dibangun smelter di Halmahera Tengah, bahan baku tembaga diambil dari Timika. Menurut dia, karena ada industri terintegrasi di Halmahera Tengah, diharapkan biaya produksinya juga akan lebih rendah.

 

"Kalau kita lakukan ini, kita akan dapat lagi nanti kabel tembaga, pipa tembaga, dan satu yang penting, asam sulfat. Ini kita butuhkan untuk bagian baterai litium. Jadi 75-80 persen baterai litium itu akan kita punya di Indonesia," katanya.

 

Sebelumnya, Luhut mengatakan saat ini momentum Indonesia untuk mengembangkan industri mobil listrik. Sebab, bahan baku pembuatan mobil listrik semuanya ada di Indonesia. "Nah mobil listrik ini, sekarang. Saya salah satu yang paling ngotot mengenai hal ini. Kenapa? hampir 96 persen, itu mobil di Indonesia dipakai mobil Jepang, ndak ada mobil lain. Sekarang dengan masuk mobil listrik, kita bisa masuk jadi pemain. Mobil dalam negeri," ungkap Luhut beberapa waktu lalu.

 

Menurut Luhut kandungan di bumi Indonesia bisa menjadi bahan baku pembuatan mobil listrik, mulai dari sasis hingga baterainya. Terlebih, membuat mobil listrik tidak serumit membuat mesin bahan bakar. "Kenapa? karena dia (mobil listrik) hanya butuh lithium baterai, dan kedua motornya saja, dia tidak butuh engine," imbuh Luhut. (TS)




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu