Langkah BPPT Membangun Industri Kendaraan Bermotor Listrik Nasional

Langkah BPPT Membangun Industri Kendaraan Bermotor Listrik Nasional
Dok. R Akmal/Transportasi Indonesia

Transportasi.co | Emisi dari kendaraan bermotor merupakan salah satu sumber emisi CO2 terbesar yang berkontribusi kepada climate change. Untuk mengurangi dampak kendaraan bermotor terhadap climate change, sedikit demi sedikit kendaraan bermotor akan diganti menjadi kendaraan listrik. Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpotensi menjadi pemain utama di dalam industri kendaraan listrik.

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Hammam Riza, mengatakan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan kendaraan bermotor konvensional, antara lain lebih hemat energi, kinerja lebih baik, lebih ramah lingkungan, dan mengurangi ketergantungan penggunaan energi fosil.

“Pengembangan kendaraan listrik termasuk dalam disrupsi teknologi yang perlu dikuasi dan dikembangkan di Indonesia. Pemerintah mendorong pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan,” ujar Hammam, kepada Transportasi Indonesia, di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (3/5/2021).

Upaya BPPT dalam mendukung perkembangan industri kendaraan berbasis listrik nasional dengan menggelar ajang Indonesia Eletric Motor Show (IEMS) 2019, yaitu ajang pameran dan seminar khusus kendaraan bermotor listrik yang pertama kali di gelar di Indonesia dengan menggandeng Majalah Transportasi Indonesia. “IEMS 2019 telah menarik perhatian pemerintah dalam upaya mengakselerasi penggunaan kendaraan bermotor listrik dan mendapat sambutan yang baik bagi para pelaku industri otomotif di Tanah Air,” ujar Hammam.

Saat ini, menurut dia, meski ada sedikit sumbatan dengan hadirnya pandemi Covid-19, tetapi kita harus tetap menumbuhkan semangat dalam  mendorong industri kendaraan bermotor listrik nasional. “Saya berharap apa yang telah dilakukan BPPT, seperti menggelar Indonesia Electric Motor Show (IEMS) perlu terus digulirkan untuk memberikan awareness bahwa BPPT tidak pernah surut dalam mengembangkan riset dan inovasi kendaraan bermotor listrik,” ujar Hammam.

Rencanannya menjelang tutup tahun 2021 BPPT akan menggelar kembali IEMS, yang merupakan ajang pameran dan seminar yang mengkhususkan pada produk dan pengembangan teknologi kendaraan bermotor listrik. “Kami akan tetap menghadirkan pameran dengan menghadirkan rangkaian produk kendaraan bermotor listrik dan seminar dilakukan secara online. Jadi IEMS 2021 akan dilakukan secara hybrid dengan menerapkan aturan protokol kesehatan yang sangat ketat untuk mencegah pandemi Covid-19. Nantikan IEMS 2021 yang akan digelar BPPT bersama  Majalah Listrik Indonesia,” ucap dia.

Fokus Charging Station

BPPT tidak pernah berhenti dalam melaksanakan inovasi teknologi. Apalagi dengan hadirnya UU No11/2019 tentang  Sistem Nasional Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Sisnas IPTEK) semakin menguatkan peran BPPT sebagai lembaga pengkajian dan penerapan teknologi.

Penerapan teknologi digital atau transformasi digital dalam kegiatan masyarakat sehari-hari dapat menciptakan disrupsi dan mempengaruhi perilaku. “Transformasi digital dapat berdampak pada perubahan aktivitas ekonomi dan peningkatkan efisiensi karena adanya perubahan teknologi, tidak terkecuali di sektor otomotif,” ujar dia.

Lanjut Hammam, infrastruktur Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBLBB) menjadi perhatian BPPT beberapa tahun terakhir. Di tahun 2021 ini, BPPT akan fokus pada penyempurnaan charging station, pengembangan motor propulsi, produksi dan pengujian baterai, hingga pendampingan fasilitas pembangunan uji mobil listrik untuk lebih mempersiapkan Indonesia dalam pergeseran tren ke arah kendaraan ramah lingkungan.

Di sisi lain, menurut Hammam, kita harus mampu melakukan terobosan dalam industri kendaraan listrik. Jangan sampai peluang dan waktu yang dimiliki Indonesia dalam mengambil ceruk pasar kendaraan listrik, seperti industri baterai kendaraan listrik melalui pengembangan produk nasional.

“Di industri kendaraan listrik kita harus mampu menempatkan koridor pengembangan kendaraan listrik. Jangan sampai semua rantai pasok kendaraan listrik untuk menarik investasi. Misalkan, Indonesia harus menguasai motor listrik,” ujar dia.

Lanjut dia, harus ada langkah dan strategi dalam melindungi pengembangan kendaraan listrik oleh industri nasional.  “Saat ini kebijakan untuk mendatangkan  motor listrik dibuka seluas-luasnya untuk masuk di Indonesia melalui piahk ATPM,” jelas Hammam.

Oleh sebab itu, menurut dia, industi kendaraan listrik nasional harus memperkuat peneliatan dan pengembagan (litbang) komponen kendaraan listrik dengan menerapkan batasan TKDN. Seperti menerapkan batasan minimal TKDN sebesar 20 persen terhadap produksi kendaraan listrik.

“Jika mereka tidak mampu memenuhi TKND sebesar minimal 20 persen, maka tidakdiperbolehkan masuk ke pasar Indonesia. Misalkan satu pabrikan mobil listrik ingin menjual  produk di Indonesia, harus melakukan R&D di Tanah Air. Hal ini sudah dilakukan di Tiongkok dan India,” ujar dia.

Selain itu, pemerintah harus menggulirkan insentif bagi para pengusaha yang telah menerapka R&D di Indonesia, seperti memberikan merek atau brand asli Indonesia. “Industri nasional harus diberikan kesempatan untuk membuat komponen kendaraan listrik melalui pengembangan inovasi dan teknologi. BPPT memiliki peran dalam mendukung pengkajian dan penerapan teknologi, sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam memajukan industri otomotif berbasis listrik. Sebab Presiden Jokowi mengamanatkan BPPT menjadi lembaga extra ordinary, otak pemulihan ekonomi, perburu inovasi, dan pusat kecerdasan inovasi indonesia,” pungkas Hammam. (TS)

 

 




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu