Menuju Keselamatan Perkerataapian yang Terus Membaik

Menuju Keselamatan Perkerataapian yang Terus Membaik
Transportasi | Dua tahun belakangan, Industri perkeretaapian Indonesia membuktikan kekokohan perisainya dalam hal keselamatan penumpang. Berdasarkan data yang dipaparkan Direktur Keselamatan dan Keamanan PT KAI Apriyono Wedi Chresnano, tercatat sejak tahun 2017 kecelakaan kereta api di Indonesia menurun 60%. 

Di tahun 2017, jumlah kecelakaan kereta api di Indonesia tercatat sebanyak 19 kecelakaan, dan di tahun 2018 per tanggal 5 September 2018 sebanyak 14 kecelakaan. Apriyono memaparkan, tahun-tahun sebelum 2017 merupakan tahun yang berat lantaran tingginya jumlah kecelakaan. Misalnya saja tahun 2015 dengan jumlah kecelakaan mencapai 53 kecelakaan. 

“Kami berusaha untuk menekan angka kecelakaan di bawah angka 30. Tahun 2017 kemarin membuka mata kami, bahwa sesungguhnya kami mampu menekan angka itu,” ujar Apriyono di acara Safety Review Program Bidang Perkeretaapian 2018 di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis (6/9). 

Kecelakaan kereta api yang dimaksud ini berdasarkan PP nomor 62 Tahun 2013 tentang Investigasi Kecelakaan Transportasi, yaitu tabrakan antar kereta api, kereta api terguling, kereta api anjlog, dan kereta api terbakar. 

Pencapaian angka ini turut didukung oleh stakeholder keselamatan perkeretaapian lainnya, seperti Kementerian Perhubungan dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang juga truurt hadir di forum ini. 

Direktur Keselamatan Pekeretaapian Kemenhub RI Edy Nursalam mengatakan saat ini pemerintah sedang membuat dasar hukum untuk safety assessment. “Safety assessment itu perlu. Mungkin akan dilakukan audit setiap dua tahun sekali oleh badan independen dengan berlandaskan Sistem Manajemen Keselamatan Perkeretaapian. Khususnya, operator selaku praktisi, itu wajib melaksanakan budaya keselamatan.” ungkapnya di acara yang sama.

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Perkeretaapian KNKT Suprapto mengatakan budaya keselamatan merupakan kunci keamanan berkendara yang terus berperang melawan budaya menyalahkan. 

“Kecelakaan bisa disebabkan oleh banyak hal, baik bersifat individual maupun organisasi. Namun bila kecelakaan telah terjadi, tugas kita bukanlah mencari siapa pelaku kecelakaan, tetapi mencari tahu penyebab kecelakaan dan bagaimana agar tidak terulang kembali. Dengan tidak menyalahkan, akan timbul budaya bertanggung jawab yang akan menciptakan perbaikan selanjutnya,” jelas Suprapto dalam presentasinya.

Sementara itu, Roy dari TUV Rheinland percaya industri perkeretaapian Indonesia  bisa dengan segera meningkatkan kualitas keselamatan perkeretaapiannya dengan memperbaiki beberapa hal, “Pertama, regulasi perkeretaapian harus jelas. Kedua, jangan malu-malu mengadopsi sistem perkeretaapian luar negeri yang sudah sukses,” ujarnya. (MAH)



0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu