Strategi Kenyamanan Monorel Soekarno-Hatta

Sejak tahun 2012 lalu, PT Angkasa Pura II (Persero) telah memulai program pengembangan Bandara Soetta menjadi sebuah kawasan Aerotropolis. Pengembangan ini merupakan jawaban dari isu keterbatasan kapasitas penumpang. Diharapkan, nantinya kapasitasnya bisa mencapai 62 juta penumpang per tahun. Sampai akhir 2013, Bandara Soekarno Hatta mampu melayani 51,5 juta penumpang. Ada lima agenda besar yang akan menjadi fokus PT Angkasa Pura II dalam melakukan tahapan pengembangan Bandara Soekarno Hatta ini, yaitu: Pertama, optimalisasi runway untuk meningkatkan kapasitas pergerakan pesawat pada landasan pacu 1 dan 2. Kedua, melakukan pengembangan Terminal 3 serta merevitalisasi Terminal 1 dan 2 untuk menambah kapasitas pergerakan penumpang. Ketiga, melakukan pembangunan terminal kargo baru (cargo village). Keempat, melakukan pengembangan fasilitas penunjang (aksesibilitas dan fasilitas lain seperti area bisnis dan komersial).

Kelima, membangun integrated building yaitu bangunan penghubung antara Terminal 1 dan Terminal 2 yang multifungsi dan berkonsep one stop service. Integrated building ini tidak sekadar menjadi bangunan penghubung, tetapi merupakan bangunan yang sarat dengan berbagai fasilitas layanan. Di antaranya adalah; pembangunan stasiun kereta api, moda transportasi antar terminal tak berawak (people mover system), terminal bus, mal, hotel, area parkir dan sebagainya. Terkait dengan rencana tersebut, PT Adhi Karya (Tbk) sebagai kontraktor pelaksana proyek mengklaim akan mulai pengembangan kereta monorel bandara atau Automatic People Mover System (APMS) Bandara Soekarno Hatta. Baru menyusul dua proyek monorel lagi, Jakarta Link Transportation, kereta monorel angkutan container atau Automated Container Transporter (ACT) di Pelabuhan Tanjuang Perak, Surabaya.

Proyek yang digarap dan diusulkan manajemen Adhi menggandeng sejumlah BUMN untuk membentuk konsorsium dalam pengembangan dan pembiayaan monorel ini. Sekretaris Perusahaan Adhi Karya, M Aprindy mengatakan, pihaknya memang mempunyai berbagai proyek infrastruktur untuk membantu mengatasi berbagai keterbatasan infrastruktur.
Untuk proyek monorel Jabodetabek, kata Aprindy, Adhi akan membangun monorel dari pusat pemukiman dan semburan kendaraan menuju daerah Jakarta. Monorel tahap I sepanjang 39,03 kilometer akan dibangun dari Cibubur-Cawang, Bekasi Timur-Cawang dan dari Cawang dibawa ke Kuningan di Jakarta Selatan. “Kita mengembangkan tiga tipe monorel. Tapi dalam waktu dekat yang bisa dimulai proyek APMS. Di sini, monorel Jabodetabek akan terhubung dengan monorel dalam kota. Untuk proyek ini, Adhi merancang kereta yang mampu membawa penumpang hingga 450 ribu per hari,” ungkapnya. Namun, lanjut dia, proyek ini sedikit tertunda karena masih menunggu peraturan presiden sebagai payung hukum meskipun proyek tidak memakai APBN. Cibubur dan Bekasi Timur dari hasil studi merupakan pusat semburan kendaraan ke kota Jakarta. Hal itu akan distop dan dialihkan menggunakan monorel.

Pengembangan kereta monorel di Bandara Soekarno Hatta, tentunya akan menggandeng PT Angkasa Pura II (Persero) yang mengembangkan monorel dan direncanakan menghubungkan antarterminal.  “Sedangkan monorel ACT ini dikembangkan untuk angkutan kontainer atau kereta barang. Kereta monorel tersebut menghubungkan Terminal Teluk Lamong dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Untuk pengembangan ini, kami sebagai ketua konsorsium menggandeng PT Pelindo III (Persero) selaku operator pelabuhan,” ungkapnya. Kepala Humas PT Angkasa Pura II, Achmad Syahir memastikan pembangunan konstruksi Monorail Bandara Soekarno Hatta atau yang lebih dikenal dengan automatic people mover system (APMS) dilakukan pada Juni 2014. Proyek senilai Rp3 triliun ini akan menghubungkan terminal 1, 2 serta terminal 3. Konstruksinya sendiri akan dikerjakan oleh PT Adhi Karya.  APMS ini ditargetkan selesai dalam 2 tahun dan terhubung dengan jaringan kereta bandara yang dikerjakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). “Pembangunan APMS dan kereta bandara oleh KAI dilakukan paralel, diharapkan selesai bersamaan,” tutur Achmad baru-baru ini.
 
Ia mejelaskan pembiayaan proyek sekitar 70 persen dari pinjaman konsorsium. Sementara jumlah penumpang per jam per tujuan adalah 3.500 penumpang yang bergerak mengelilingi terminal Bandara secara terus menerus. Untuk pengoperasian APMS akan diserahkan ke anak usaha. Namun APMS merupakan salah satu fasilitas yang ada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, dimana penumpang atau pengunjung bandara tidak dikenakan biaya tambahan apabila menggunakan fasilitas tersebut.

SERPONG-SOETTA 2016
Sementara itu, pembangunan kereta api layang (monorel) rute Serpong-Bandara Soekarno Hatta sepanjang 35 Km ditargetkan bisa beroperasi pada 2016. Direktur Utama Perusahaan Daerah (PD) Banten Global Develovment (BGD) Saleh MT, mengatakan proyek tersebut diperkirakan menghabiskan anggaran sekitar Rp7 triliun. Dana sebesar ini akan dialokasikan untuk pembangunan fisiknya, yakni rel dengan kereta apinya. Monorel tersebut akan dibangun sepanjang 35 Km dengan 16 stasiun yang dilengkapi dengan pusat perbelanjaan mulai dari Serpong, Alam Sutera, Kota Tangerang sampai ke Bandara Soekarno Hatta. “Konsepnya kita ingin seperti di Singapura, dimana setiap transit atau turun di stasiun itu langsung ke pusat wisata belanja,” kata Saleh. Proyek monorel tersebut dilaksanakan investor dari perusahaan Singapura, yakni PT Denicor dan operasionalnya bekerjasama atau “join operation` antara PT BGD (BUMD) dan PT Inka (BUMN) dengan membentuk sebuah anak perusahaan yakni PT Banten Excel Skytransport (BES).
Menurutnya, untuk mendukung operasional dan kelengkapan monorel tersebut, BGD juga berencana membangun hotel di Bandara Soekarno Hatta terutama untuk transit para calon jemaah haji. Sedangkan gerbong kereta api tersebut dirancang untuk menampung sekitar 600 orang dalam satu rangkaian kereta. “Paling dalam satu rangkaian itu ada sekitar tiga gerbong,” tutup Saleh.



0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu