Tidak Menutup Kemungkinan, Tangerang Selatan Terhubung Jalur MRT

Tidak Menutup Kemungkinan, Tangerang Selatan Terhubung Jalur MRT
Transportasi | Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta, yang rencananya secara resmi akan beroperasi pada Maret 2019, ternyata membuat pemerintahan kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, kepincut. Hal ini disampaikan Direktur Utama PT MRT Jakarta William P Sabandar, pada acara Pameran Sayembara Transport Hub Dukuh Atas, di Ballroom Thamrin Nine, Plaza UOB Plaza, Jakarta, Kamis (27/9).

 

“Pemerintah Tangerang Selatan, tertarik untuk membuka kemungkinan untuk pembangunan proyek jalur MRT. PT MRT Jakarta sendiri saat ini tengah melakukan koordinasi dan melakukan beberapa pertemuan dengan Wali Kota Tangerang Selatan untuk membahas Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di wilayah itu. Tetapi, agar MRT bisa masuk hingga ke Tangerang Selatan, RTRW tersebut harus disetujui,” kata William.

 

Lebih lanjut dia mengatakan, bila RTRW sudah ada bisa di justifikasi formal terhadap proyek MRT ke Tangerang Selatan. “Selain RTRW, William menambahkan, pihaknya juga mengacu pada Peraturan Presiden (Perpres) No.55/2018 tentang Rencana Induk Transportasi Jakarta (RITJ),” ujar dia.

 

Adapun dalam Perpres, William menambahkan, perpanjangan jalur MRT dari Lebak Bulus di Jakarta Selatan ke Ciputat sampai ke Pondok Cabe sekitar 13-14 km. Tetapi kita tetap menunggu tahap sinkronisasi RTRW yang masih dikaji dengan RITJ itu.

 

“Dalam RITJ sendiri di kawasan Tangerang Selatan yakni Serpong dan sekitarnya, nantinya akan ada sambungan LRT. William mengatakan, saat ini pun pihak BPTJ juga tengah melakukan FGD untuk lakukan sinkronisasi RTRW tersebut,” jelas William.

 

Meski adanya rencana ini, pihak PT MRT Jakarta belum mendapatkan penugasan itu sendiri meski ide untuk membangun MRT samapi ke Tangerang Selatan sudah ada. Tetapi skema jelasnya seperti apa, William menambahkan, belum ada sampai saat ini.

 

Dalam pengembangan menuju Tangerang Selatan ini sendiri ada tiga tahapan yang harus dilalu untuk mengkaji pembangunan proyek MRT tersebut. Tahapan itu yakni studi pendahuluan, Visibilitas dan desain teknis yang didalamnya juga mencakup kejelasan terkait pendanaan. “Kami masih dalam tahap studi pendahuluan. Sedangkan untuk skema pembangunan dapat dilakukan melalui Kerja Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU), public private partnership, atau sepenuhnya dari pemerintah. Tetapi skema yang biasanya ditawarkan dalam bentuk KPBU. Pada intinya kami siap jika ditunjuk,” pungkas William. (TS)




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu