Transjakarta Bangun TOD

Transjakarta Bangun TOD
Transportasi.co | Transjakarta sebagai operator transportasi tertarik mengembangkan dan mengelola kawasan Transit Oriented Development (TOD)

Hal ini diungkapkan Direktur Utama PT Transportasi Jakarta Agung Wicaksono mengatakan , bahwa TOD sangat potensial sebagai sarana mendulang pendapatan nontiket. Aspek bisnis di luar tiket ini sanggup menutup biaya subsidi dari pemerintah (public service obligation/PSO).

 

"Memungkinkan sekali [mengelola TOD]. Tapi itu sangat tergantung pada kebijakan pemerintah. Kalau MRT, itu memang mendapatkan dukungan lewat Pergub TOD yang di sana lebih menekankan pada angkutan berbasis rel, yang berbasis angkutan jalan belum [diprioritaskan]," ujarnya.
Lebih lanjut, Agung menjelaskan, Transjakarta baru fokus memulai eksplorasi pendapatan di luar tiket lewat iklan luar ruang aset bus Transjakarta. Target pendapatan nontiket ini pun tak main-main, mencapai Rp100 miliar pada periode mendatang. Langkah selanjutnya, Agung berharap sektor usaha juga berminat melirik potensi periklanan dari halte-halte Transjakarta yang telah diperbarui atau dimodifikasi ulang.
Terkait mengelola TOD, Agung mengaku akan berkkordinasi dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, barangkali ada kawasan yang bisa dimanfaatkan serta mempersiapkan regulasi yang mendukung.

Seperti diketahui, dalam Peraturan Gubernur No 67/2019 tentang Penyelenggaraan Kawasan Berorientasi Transit, sebenarnya Transjakarta memiliki peluang untuk mengelola TOD. Syaratnya, dalam beleid teraebut tercantum operator transportasi berhak untuk mengajukan permohonan penetapan dan pengelolaan Kawasan Berorientasi Transit baru kepada Gubernur.
“Bahkan, operator sebagaimana dimaksud bukan hanya BUMD, namun BUMN pun bisa. Asalkan memiliki dan menyampaikan kajian kawasan sebagai Kawasan Berorientasi Transit kepada Gubernur dan memiliki dan menyampaikan proposal pengembangan Kawasan Berorientasi Transit kepada Gubernur,” ujarnya.
Namun, Gubernur nantinya akan menilai lebih lanjut. Sebab, penetapan Kawasan Berorientasi Transit harus memenuhi kriteria, di antaranya kawasan mesti dilayani atau direncanakan untuk dilayani oleh Angkutan Umum Massal berbasis rel dan Angkutan Umum lainnya, serta berada pada Kawasan dengan kerentanan bencana rendah dan disertai dengan mitigasi untuk mengurangi risiko bencana. (CR)



0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu