Vietnam Bikin Mobnas, Indonesia  Terobsesi Bikin Kendaraan Listrik

Vietnam Bikin Mobnas, Indonesia  Terobsesi Bikin Kendaraan Listrik
Transportasi.co | Berita terakhir tentang perkembangan otomotif di Asia Tenggara pada hari ini cukup mengejutkan kita. Pasalnya Vietnam yang notabene negara yang agak terlambat hadir di kancah industri otomotif di Asia bahkan di Asia Tenggara sekalipun, telah memiliki mobil nasional (mobnas) sendiri.

Dr. Mohammad Mustafa Sarinanto, Kepala Balai Besar Teknologi Konversi Energi (B2TKE) BPPT yang juga Penggiat Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) dan Infrastrukturnya dalam tulisannya menyampaikan, perkembangan dan semangat pemacuan industri dalam negeri mereka, yaitu bahwa di usia yang relatif sangat dini produk mobnas Vietnam mulai masuk dalam 5 besar penjualan di pasar domestik Vietnam.

Masuknya mobnas Vietnam ke dalam 5 besar pasar domestik adalah sesuatu yang dapat dianggap wajar, namun bagi yang memahami sejarah panjang obsesi Indonesia terhadap mobnas yang sampai sekarang tak kunjung terwujud, maka capaian negara tetangga terhadap hal itu merupakan sesuatu yang mencengangkan.

Di tengah situasi seperti itu, kemudian dunia otomotif kedatangan ‘tamu’ yang diyakini mampu menjadi ‘pengganggu’ atau disrupsi terhadap hegemoni yang kuat di peta percaturan industri otomotif global. Yaitu datangnya era kendaraan listrik (electric vehicle) yang belakangan dikenal dengan istilah kendaraan bermotor listrik (KBL) menurut Perpres nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai untuk Transportasi Jalan.

Tidak ayal, potensi disrupsi dari KBL ini kemudian memancing antusiame tinggi dari para penggiat mobnas tanah air yang berharap KBL ini mampu jadi wahana baru untuk dapat mewujudkan mimpi lama yang bersemi kembali. Meskipun demikan, impian tersebut akan tetap jadi impian, kalau semua kondisi ideal untuk mendukungnya tidak tercipta. Sementara itu, sandungan demi sandungan mulai tampak bermunculkan saat semangat membangkitkan mobnas versi listrik mulai digulirkan dengan penerbitan Perpres tersebut.

Menurutnya, Menteri BUMN Erick Tohir sendiri dikatakan telah mulai memikirkan untuk menggabungkan potensi dan kompetensi BUMN untuk membangun industri terkait KBL. Yaitu potensi seperti Pertamina, Telkom, PLN dan Inalum untuk membangun industri baterai. 

“Ya industri baterai, yang merupakan salah satu komponen penting KBL. Tentunya berita ini merupakan angin segar bagi iklim pengembangan dunia otomotif tanah air, khususnya bagi pihak-pihak yang mulai berhitung untuk turut berkiprah ke industri KBL setelah terbitnya Perpres yang mendorong percepatan penerapan KBL di Indonesia,” jelasnya.

Bagi BPPT konsolidasi BUMN ini sangat menarik sekaligus sangat menantang. Menarik, karena pemikiran serupa pernah pula dikemukakan di dalam sebuah acara menyambut datangnya era kendaraan listrik di Indonesia.

“Ini menantang karena era kendaraan listrik atau KBL ini perlu disikapi dengan cermat mengingat ekosistem di Indonesia masih belum tertata dengan baik,” ucapnya.
 Sebagai sebuah alat transportasi, KBL memerlukan pengisian ulang yang saat ini masih belum tersedia dengan memadai, dan masih pada taraf penataan. Di sisi lain, harga KBL masih sangat tinggi untuk dapat menjadi alat transportasi masal yang terjangkau, dikarenakan juga proses lokalisasi industrinya masih belum berjalan. (CR)






 



0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu