Yuk Intip, Celah Kecurangan Pada Sistem Go-Jek dan Grab

Yuk Intip, Celah Kecurangan Pada Sistem Go-Jek dan Grab
Transportasi.co | Spire Research and Consulting, salah satu perusahaan riset terkemuka global yang berpusat di Tokyo, Jepang, merilis data peta persaingan transportasi online atau ride-hailing di Indonesia. Seperti kita ketahui, ada dua pemain besar di industri transportasi online yang masih bertahan di Tanah Air, yaitu Go-Jek dan Grab.

 

Seiring berjalannya waktu, persaingan antara Go-Jek, yang merupakan start-up unicorn asal Indonesia dan Grab, Grab, perusahaan penyedia layanan ride-hailing terbesar di Asia Tenggara,  semakin sengit. Keduanya saling salip dalam mengembangkan layanan dan meningkatkan kualitasnya.

 

Harapannya, tentu saja ingin memperoleh jumlah pengguna yang lebih banyak daripada pesaing. Namun, pada akhirnya konsumen yang menjadi penentu. Dari hasil studi yang dilakukan Spire Research and Consulting, terhadap pengemudi dan konsumen untuk mencari tahu preferensi terhadap penyedia layanan transportasi online dari berbagai aspek, seperti consumer awareness, frekuensi penggunaan, dan preferensi dalam menggunakan layanan e-money.

 

Jeffrey Bahar, Group Deputy CEO Spire Research and Consulting, mengatakan temuan paling menarik dari studi kami adalah adanya kecurangan (fraud) yang cukup besar dan bagaimana pandangan para pengemudi (driver) terhadap hal tersebut. “Sayangnya, di tengah “gegap-gempitanya” bisnis transportasi online, tindak kecurangan (fraud) pun terjadi. Bahkan, dalam studi yang dilakukan Spire Research and Consulting, fraud di kalangan pengemudi (driver) sudah menjadi rahasia umum,” jelas Jeffrey, di Jakarta, Rabu (30/1/2019).

 

Fraud menjadi isu tersendiri. Di satu sisi, fraud dapat menyebabkan kerugian bagi penyedia platform transportasi online, di sisi lain juga menjadi koreksi atas lemahnya sistem yang mereka miliki. Spire Research and Consulting memperkirakan sebanyak 30% dari order yang diterima Go-Jek terindikasi fraud.

 

“Angka itu cukup tinggi jika dibandingkan dengan persentase fraud Grab yang diperkirakan hanya5%. Angka tersebut berdasarkan estimasi jumlah order fraud dibandingkan jumlah total order yang diterima. Ini merupakan masalah sistematis bagi kedua perusahaan dan terutama, permasalahan yang Go-Jek harus segera atasi,” kata dia.

 

Jeffrey menambahkan, perkiraan ini masuk akal karena kami juga melakukan survei terhadap para pengemudi transportasi online. “Di 2018, dari para pengemudi Go-Jek sendiri yang kami survei, 60% di antaranya mengaku pernah melakukan frauduntuk meningkatkan jumlah order mereka yang akan berpengaruh pada bonus dan pendapatan harian yang mereka terima,” ungkap dia.

 

Para pengemudi Go-Jek yang pernah melakukan fraud itu mengatakan melakukannya karena menemukan celah yang dapat ditembus dalam sistem Go-Jek. “Caranya, dengan menggunakan aplikasi yang dapat memodifikasi lokasi (mod). Di sisi lain, meski pengemudi Grab tak terbebas dari praktik fraud, namun jumlahnya lebih sedikit, yakni kurang dari 10%,” jelas Jeffrey.

 

Menurut Jeffrey, para pengemudi Grab mengatakan ketatnya sistem keamanan di aplikasi Grab dapat mendeteksi adanya praktik nakal para pengemudi dan tegasnya sanksi yang diberikan oleh manajemen ditengarai mampu menjadi penghalau niat para pengemudi Grab untuk melakukan tindak kecurangan. Para pengemudi juga menyatakan bahwa kedua perusahaan berusaha untuk memperbaiki sistem mereka dalam mendeteksi fraud.

 

“Saat ini, Grab dan Go-Jek sama-sama berkembang pesat, baik di ranah transportasi online maupun online food delivery, Tanah Air. Akan tetapi, perhatian khusus harus diberikan terhadap aspek fraud demi menjamin perkembangan teknologi dan industri yang sehat,” tandas Jeffrey. (TS)




0 Komentar

Berikan komentar anda

menu
menu